DSC_0074 copyHari ketujuh di bulan Syawal. “Berapa kupat yang sudah kau makan hari ini?” Demikanlah pertanyaan yang sering muncul dari para sanak dan tetangga. Memang, Semua keluarga di kampungku Desa Sidorejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, pada hari ini memasak ketupat (kami menyebutnya kupat). Saling punjung juga dilakukan. Keluarga yang lebih muda mengantar kupat beserta lauk pauknya kepada keluarga yang lebih tua. Maka jangan heran jika di keluarga yang sudah tua dan sudah memiliki cucu akan kebanjiran kupat.

Pagi hari setelah subuh para keluarga berbondong nyunggi nampan berisi kupat beserta lauk pauknya menuju masjid atau mushola terdekat. Prosesi ini disebut Ariyoyo kupat atau kupatan. Di dalam masjid atau musholla para penduduk mendoakan nenek moyang dan anggota keluarga yang sudah meninggal dunia. Prosesi puncak adalah memakan kupat bersama-sama. Walaupun tidak ada aturan namun tabu memakan kupat yang dibawa sendiri. Jika kupat dan lepat yang dibawa dari rumah tidak habis dimakan maka kupat-kupat itu ditukar dari nampan ke nampan.

Pagi itu aku tidak ikut ariyoyo kupat. Aku mengantar teman dari Blora yang bekerja di Jakarta untuk meliput Syawalan di Moro Demak. Sebuah peristiwa budaya yang baru kali ini aku saksikan. Ibuku sudah mewanti-wanti, “Panas lho! Macet lho!”

Mesin motor aku hidupkan, roda menggelinding melewati jalan antara Karangawen-Buyaran, Buyaran-Moro Demak. Seorang teman yang sudah sehari sebelumnya di sana mengirim SMS bahwa suasana sangat ramai, macet. SMS dari temanku tersebut membuat diriku semakin penasaran dan ingin segera lekas sampai. Di perjalanan aku disalip dan menyalip orang-orang yang aku duga bertujuan sama denganku, Moro Demak. Aku membayangkan betapa ramainya, betapa riuhnya. Aku merasa bangga sebagai warga Demak dan dapat menunjukkan peristiwa ini kepada teman yang kebetulan wartawan.

DSC_0136 copyDi dalam tasku sudah aku siapkan kamera dan handycam. Aku ingin mengambil gambar dengan kamera, merekamnya dengan handycam, dan mencatatnya. Nanti sesampai di rumah akan segera aku bagikan cerita dari Demak ini kepada teman-teman melalui blog dan facebook.

Saya berkesimpulan bahwa tempat pelaksanaan Syawalan sudah dekat saat melihat orang berseragam pramuka dan tentara menghadang kami, memberi kami selembar kertas warna hijau dan menyuruh kami menukarnya dengan uang dua ribu untuk setiap motornya. Aduh, sungguh tempat ini kotor sekali. Limbah rumah tangga memenuhi sungai yang mengalir ke laut. Teman saya bertanya, apa mayoritas agama penduduk di sini. Aku jawab, “Tentu saja Islam, tetapi mungkin mereka belum pernah belajar hadits annadlofatu minal iman dan terlewat untuk dibaca.

Motor kami berjalan pelan, karena tidak mungkin menabrak pengendara lain yang telah memenuhi jalan. Di hadapan kami berbaris sepasukan bertombak yang mengiring dua tumpeng besar. Langkah mereka seirama sesuai ketukan drum yang ditabuh pasukan pemukul. Kami belokkan motor kami ke tempat parkir. Kami bersyukur tepat saat prosesi dimulai. Iring-iringan bertombak yang membawa dua tumpeng itu menuju sebuah Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Di dalam TPI didirikan panggung untuk pementasan wayang dan seperangkat gamelan terletak di atas panggung.

Tumpeng diletakkan di antara wayang dan gamelan. Saya pikir prosesi akan segera dilangsungkan, ternyata tidak. Masih hampir satu jam menunggu bupati dan para pejabat setempat.

Kami menyaksikan lalu lalang perahu. Menikmati muda-muda bergoyang mengikuti irama dangdut di atas kapal yang bergerak pelan. Kapal dan perahu itu dihias  aneka ragam warna. Bagi yang ingin ikut hilir mudik, dipersilahkan untuk naik ke kapal dengan membayar ongkos sekali jalan Rp. 5000. Sambil menunggu prosesi dilanjutkan, kami memutuskan untuk menikmati naik kapal. Setelah kami tunggu sekian lama kapal tidak jalan-jalan kami pindah ke kapal lain. Nasib kapal ke dua juga tidak beda. Kami tidak sabar menunggu dan meloncatlah kami dari kapal. Kapal-kapal itu seperti angkot yang menunggu penuh penumpang baru jalan.

Rupanya prosesi sudah dimulai. Ketua panitia dan Pak Bupati menyampaikan sambutan. Saya tidak begitu peduli dengan sambutan beliau. Melompatlah kami ke kapal yang akan mengusung tumpeng menuju tengah laut. Seorang petugas berseragam TNI menanyai kami, teman kami menjawab, “Jurnalis.” Mereka mempersilahkan kami duduk di bagian belakang, karena katanya bagian tengah untuk Pak Bupati beserta rombongan.

Saatnya tiba. Tumpeng dibawa masuk ke kapal yang kami tumpangi. Para pejabat setempat juga turut serta. Mesin diesel dinyalakan. Suaranya bergemuruh memekakkan gendang telinga. Pelan kapal itu berjalan. Penumpang kapal dan perahu di kiri kanan dan orang-orang di tepi-tepi pantai melambai-lambaikan tangan. Tentu melambai dengan Pak Bupati Tafta Zani dan Wakil Bupati M.Asikin, bukan melambai kepada saya.

Sampailah kami menuju samudra. Mesin dihentikan, kapal berhenti bergerak. Kami menata duduk. Acara segera dimulai. Sambutan Bupati Tafta penuh dengan harpan-harapan meminta kepada Tuhan supaya laut memberi kehidupan. Saat itu angin menerpa kapal. Saya sempat berdebar. Satu tumpeng diserahkan kepada laut, tumpeng yang satunya dinikmati oleh yang ada di kapal.

DSC_0157 copyPara nelayan berebut air yang dilalui aliran tumpeng. Mereka menyiramkan air itu ke perahu-perahu. Entah apa maksud mereka, mungkin mengharap berkah. Selesailah prosesi, sebelum kapal kembali lagi ke dermaga ada kapal mendekat. Ada turis laki-laki dan perempuan, mereka mengaku dari Taiwan. Kata mereka perayaan Sywalan ini benar-benar wonderful.

He he turis lebay. Sepertinya dua turis itu hanya ingin menghibur tuan rumah. Atau bisa saja setelah sampai hotel menggerutu, “Laut kotor dan tontonan tidak serius kayak begini kok tega-teganya ditawarkan, mending ke Bali, atau ke mana saja. Kapal yang digunakan untuk melarung juga kapal nelayan biasa, mbok ya penyelanggaraan syawalan ke depan kapal didesain yang menarik, tumpeng yang mau dilarung juga didesain yang lebih menarik. Biar difotonya juga enak gitu lho.” (Muhajir Arrosyid)

DSC_0228Seperti lebaran-lebaran sebelumnya, pada lebaran tahun ini (20 September 2009)  di desa-desa se Kecamatan Karangawen Demak terselenggara Takbir Mursal. Takbir mursal adalah istilah lain dari takbir keliling. Takbir mursal dilaksanakan oleh muslimin dan muslimat setelah buka terakhir di Bulan Ramandhan. Takbir mursal sudah mentradisi sejak puluhan tahun lalu di desa-desa di Kecamatan Karangawen. Habis magrib para penduduk yang memeluk Agama Islam berkumpul di masjid. Setelah Isya’ dilanjutkan berjalan kaki meneriakkan takbir keliling kampung. Dulu saat listrik belum masuk desa dan mesin diesel belum popular penerangan dilakukan menggunakan oncor, lampu yang terbuat dari bambu. Takbir mursal menggunakan pengeras suara bertenaga acu yang diangkut dengan oyol di atas sepeda. Untuk meramaikan  suasana takbiran diiringi  tetabuhan kentongan.

Seiring waktu, masyarakat semakin mengenal kemajuan dan teknologi. Listrik juga telah masuk desa. Siaran stasiun televisi baik negeri maupun swasta sudah dapat ditonton kapanpun di kampung.

Hal-hal di atas mempengaruhi bentuk takbir mursal, terdapat penambahan pernak-pernik di sana-sini. Sekarang penerangan menggunakan lampu neon dengan tenaga solar. Demikian juga pengeras suara, diangkut mengunakan mubil bak terbuka. Tetabuhan tidak lagi menggunakan kentongan tetapi menggunakan drum bekas tempat tahu. Penabuh drum sudah diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai group drumband.

Satu lagi hal yang membedakan takbir mursal dulu dengan sekarang adalah takbir mursal sekarang terdapat adanya patung berukuran raksasa yang diusung oleh peserta rombongan takbir mursal. Patung itu terbuat dari anyaman bambu dan dilapisi kertas. Bentuk patung bermacam-macam, ada yang berbentuk hewan, robot, masjid, dan lain sebagainya. Semakin hari kualitas patung juga semakin baik.

Selalu saja ada usaha menyelipkan pesan dalam takbir mursal.  Pesan-pesan itu di antaranya pemeliharaan lingkungan, pesan untuk tidak menggunakan narkoba, pesan untuk selalu taat kepada ajaran agama, dan pesan-pesan bijak lainnya.

Takbir mursal adalah tradisi masyarakat Karangawen. Tradisi menurut Rendra ( 1983) adalah kebiasaan yang turun-temurun dalam sebuah masyarakat. la merupakan kesadaran kolektif sebuah masyarakat. Takbir mursal adalah wujud kebudayaan masyarakat Karangawen. Koentjaraningrat berpendapat bahwa terdapat tiga unsur kebudayaan yaitu ide, wujud tindakan, dan hasil-karya manusia. Takbir mursal adalah wujud kebudayaan yang berupa tindakan.  Takbir mursal adalah ekspresi masyarakat Karangawen terhadap kondisi terkini Indonesia dan dunia.

Positif-negatif takbir mursal

Mulanya takbir mursal hanya dilakukan ditingkat desa. Semua masjid dan mushola membentuk rombongan dan bergabung menjadi rombongan besar  bermuara di rumah kepala desa. Saat ini rombongan semakin besar karena desa-desa yang dekat dengan kecamatan seperti desa Karangawen, Brambang,  Sidorejo, dan Bumirejo,  bergabung menjadi satu dan berjalan melewati kantor Kecamatan.

Takbir mursal Karangawen dikenal sampai daerah-daerah tetangga. Hal ini karena pemberitaan media baik cetak maupun elektronik di setiap penyelengaraannya. Bahkan pada lebaran tahun kemarin mahasiswa dari Cina dan Swedia yang kuliah di Perguruan Tinggi di Semarang menyempatkan hadir untuk menyaksikanya.  Jumlah penonton ribuan memenuhi kanan kiri jalan. Saat ini antara Karangawen dan takbir mursal setali tiga uang. Orang-orang luar daerah mengenal Karangawen karena takbir mursal. Takbir mursal telah menjadi tanda bagi keberadaan Karangawen.

Segala peristiwa selalu saja ada sisi negatifnya, demikian pula takbir mursal di Karangawen ini. Berikut sisi negatif takbir mursal. Pertama, karena melintasi jalan provinsi maka takbir mursal menimbulkan kemacetan. Saat malam lebaran volume kendaraan jalan provinsi antara Semarang – Purwodadi penuh. Hal ini terjadi karena banyaknya masyarakat yang melaksanakan perjalanan mudik. Kedua, seringkali terdapat rombongan nakal yang memanfaatkan acara ini sebagai sarana hura-hura seperti meminum minuman keras, meledakkan mrecon sembarangan sehingga tidak jarang mengakibatkan perkelahian. Suasana takbir yang harusnya khusuk menjadi rusak dengan adanya kelompok nakal ini.

Untuk menghindari dampak negatif di atas mulai dari tahun kemarin pemerintah setempat mengambil kebijakan dengan melarang pelaksanaan takbir mursal di jalan provinsi. Takbir mursal hanya boleh dilaksanakan di jalan kampung masing-masing. Akibatnya pada tahun kemarin penonton dari daerah lain banyak yang kecewa. Mereka tidak mendapat informasi atas kebijakan pemerintah setempat tersebut. Mereka terlanjur memilih tempat di kanan kiri jalan provinsi antara SMP N 1 Karengawen sampai Terminal Karangawen. Padahal rombongan takbir mursal tidak melewati jalan tersebut.

DSC_0280Karena sudah menjadi ‘petanda’ dan ruang ekspresi masyarakat Karangawen maka masalah di atas harus dicarikan solusi yang lebih bijak agar takbir mursal tetap berlangsung, penonton tetap bisa menikmati, tetapi tidak ada yang dirugikan termasuk pengguna jalan yang melaksanakan perjalanan mudik.

Solusi masalah di atas harusnya dirembuk bersama antara pemerintah setempat, aparat keamanan, dan masyarakat. Solusi yang dapat diambil misalnya memindah waktu yaitu tujuh hari setelah lebaran. Solusi yang lain adalah memindah rute perjalanan. Memindah rute perjalanan atau waktu pelaksanaan takbir mursal harus disertai informasi kepada masyarakat yang terlibat, peserta rombongan takbir mursal dan penonton. Agar kekeceyaan yang terjadi pada tahun kemarin tidak terjadi lagi. Dengan demikian takbir mursal akan benar-benar menjadi ruang ekspresi dan ‘petanda’ Karangawen bahkan Demak. Semoga takbir mursal akan dapat sedrajat dengan festval di Jember dan Borobudur.  Semoga. (Muhajir Arrosyid)

OBROLAN TENTANG FITRI

September 22, 2009

Muhajir Arrosyid

Dulu saat jalan antara Karangawen-Buyaran Demak masih rusak, saya sering mengutuk-ngutuk penyelenggara pemerintahan. Kenapa jalan yang banyak lubang di sana-sini itu tidak segera diperbaiki? Saya hurus berhati-hati naik turun berkelok-kelok seperti orang sedang ujian SIM. Akibatnya waktu tempuh juga semakin panjang. Mungkin pemerintah mendengar omelan saya, karena tidak lama berselang jalan itu benar-benar diperbaiki, tidak tanggung-tanggung di cor dan tentu lebih kuat. Saat lebaran tahun ini hampir tidak ada jalan yang benjol, semua mulus dan lancar. Sore sebelum lebaran saya jalan-jalan berniat untuk membeli blewah di sepanjang jalan Desa Ngrogol. Hidung saya seringkali mencium harumnya opor dari dapur ibu-ibu, dan setiap kali melewati pemakaman dan pasar semerbak aroma kembang.

Saya merasa ada yang berubah setelah jalan ini menjadi tanpa lubang dan benjolan. Jika dulu saya berhati-hati karena takut terperosok di lubang, sekarang saya berhati-hati menghindari para pemuda yang kebut-kebutan. Anda bisa bayangkan, motor yang memiliki cc 125 berjalan di jalan mulus dikendarai bocah seumuran SMP-SMA, Hasilnya adalah kendaraan bagai terbang. Mereka menjadi Rosi, Pedrosa. Mereka seperti tidak peduli bahwa tidak hanya dia yang berkendara di  jalan. Saat jalan rusak dan hampir tidak bisa dilewati saya mengutuk-ngutuk pemerintah sambil berdo’a semoga lekas diperbaiki tetapi setelah jalan itu benar-benar baik, saya jadi berfikir ulang. Saya tidak pernah berfikir jika jalan yang halus mengubah prilaku penguna jalan. Pengguna jalan jadi egois, serakah, dan dzolim. Mereka jadi tidak menempatkan sesuatu pada tempatnnya. Jalan yang harusnya hak pengendara dengan arah berlawanan dia embat juga.

Hp saya bergetar, lima SMS masuk. Setelah saya buka, tiga di antaranya dari pemilik nama Fitri. Mereka adalah Fitri Gema, Fitri Jambi, dan Fitri Vokal. Di dalam daftar nama HP milik saya setidaknya ada enam nama Fitri. Kesimpulan saya, Fitri cukup populer sebagai nama. Masih penasaran, saya ketik kata ‘fitri’ di mesin pencari google. Yang muncul adalah gambar perempuan Indonesia yang cantik-cantik dan gambar kartu ucapan selamat hari raya idul fitri.

Selang beberapa waktu SMS beruntun masuk, cepat seperti peluru. Dari mana saja, dari teman-teman yang lama tidak muncul, banyak juga yang tanpa nama. SMS tersebut dengan berbagai bahasa tetapi dari semua SMS yang masuk hampir semua menyertakan kata fitri, selamat hari raya idul fitri. Membuka facebook, hampir semua dinding setatus menyebut kata fitri. Saya menyalakan pesawat televisi kata fitri berulang disebut. Keluar rumah sepanduk-sepanduk juga menyertakan kata fitri.

Para orang tua memberi nama fitri kemungkinan anak itu lahir pada idul fitri, atau harapan agar anak perempaunya menjadi manusia bersih.

Sebelum ada ritual kirim-kirim SMS, dan carat-coret facebook ada ritual idul fitri yang lebih lama, lebih kuno yaitu berkunjung ke rumah para tetangga dan sanak keluarga. SMS dan facebook memang lebih murah dan cepat tetapi bukannya ritual berkunjung ke rumah para tetangga kalah bermanfaat. Berkunjunjung langsung ke rumah para sanak saudara memberi kemungkinan kita lebih dekat dan lebih akrab. Kita dapat mengetahui keadaan saudara kita lebih jelas. Merkunjung adalah menyenagkaan hati orang yang dikunjungi. Berkunjung kepada orang yang miskin, mereka akan sangat dihargai, dihormati, “Orang seperti saya kok dikunjungi”. Dan berkunjung kepada orang kaya memberi ruang kepada mereka untuk menunjukkan hasil kerja kerasnya dalam mengumpulkan harta dunia, “Ini lho, rumahku bagus, mobilku baru, lemariku baru, bungaku banyak, bagus-bagus”. Berkunjung dengan senasib memberi ruang untuk curhat orang-orang senasib. Katanya berkunjung memanjangkan umur, meluaskan rizki. Saat-kita berkunjung kita mendapat banyak do’a. Dan do’a kita tinggal mengamininya. Jika orang sudah mendo’akan yang baik sudah dipastikan mereka pasti memaafkan dosa kita.

Lebaran adalah tempat dan ruang bagi kita untuk mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang pernah memberi ilmu kepada kita, apalagi yang mensodakohkan ilmunya secara cuma-cuma. Mereka guru ngaji, guru madrasah, dan lain sebagainya.

Namun demikian antara lebaran dan idul fitri itu berbeda. Lebaran adalah dari kata lebar atau usai. Kita usai melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh. Dan idul fitri adalah hari yang fitri. Kita kembali bersih karena dengan sungguh-sungguh mengkonsentrasikan diri kita kepada Allah selama sebulan penuh. Itu artinya bisa saja kita lebar tetapi belum tentu kita fitri. Semoga kita kembali menjadi fitri, memolai esok dengan kebaikan. Semoga Allah memberi kita kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Mohon maaf ya?

EGRANG DAN KENTHONGAN DI FESTIVAL MARDI BUDAYA

100_8017Siang itu (14/08), anak-anak sampai orang dewasa bersorak sorai menyaksikan perlombaan balap egrang (permainan dari bambu) dan lomba membuat sekaligus memukul kenthongan. Lomba tersebut dalam rangka merayakan Festival Mardi Budaya Rute 03 HUT RI ke 64 tahun 2009 dan  Hari Ulang Tahun (HUT) Kemedekaan RI.

Tidak seperti biasanya yang dimeriahkan dengan lomba sendok kelereng atau balap karung, Di Desa Karangsari, Kecamatan Karangtengah Demak, berbagai lomba nyentrik dan berbasis budaya diselenggarakan untuk menarik perhatian warga sekitar.

Sutikno, koordinator Festival Mardi Budaya Rute 03 HUT RI ke 64 tahun 2009 sengaja mengonsep acara ini sebagai festival budaya supaya warga mengenali kembali budaya sekitar yang sempat terlupakan. “Selama ini perlombaan menyambut HUT RI hanya itu-itu saja. Saya merindukan perlombaan yang unik dan berbasis budaya,” ungkap pria berambut gondrong ini.

Maka dipilihlah lomba balap egrang, permainan dari bambu yang cara memainkannya dinaiki dan dibawa berjalan. “Permainan ini dahulu sangat familiar di kalangan anak-anak. Namun, seiring masuknya permainan berteknologi tinggi seperti PS (Play Station) dan televisi, permainan seperti ini sudah dilupakan. Maka, melalui momen HUT RI ini saya ingin mengenalkan kembali permainan ini,” tambahnya.

Selain egrang, memukul kenthongan juga mengisi agenda dalam festival budaya ini. Dalam perlombaan ini, peserta diharuskan membuat kenthongan, memukulnya serta menyanyi diiringi irama pukulan kenthongan. Panitia membebaskan peserta menyanyikan lagu sesuai pilihan mereka sendiri.

“Kami ingin membuat acara yang lain dari pada yang lain sehingga akan menumbuhkan kesan tersendiri bagi warga. Sehingga tahun ke depan acara seperti ini akan ditunggu-tunggu,” tandasnya.

Para warga sangat antusias mengikuti acara ini. Festival yang digelar sejak 1 agustus hingga 17 Agustus menyedot banyak perhatian warga. Hadiah untuk para pemenag berdatangan dari warga sekitar tanpa diminta.

Selain dua perlombaan di atas, perlombaan lainnya juga diselenggarakan seperti lomba mewarnai gambar, lomba menggambar, lomba baca puisi, lomba nguleg, lomba stagenan, lomba menulis sms, lomba tari modern (gerak dan lagu), lomba membaca teks proklamasi, lomba menghafal doa sahur doa berbuka puasa, dan lomba drama remaja.100_8035

Puncak Festival Mardi Budaya digelar pada 16 Agustus malam di depan rumah Sutikno. Pada acara ini digelar pentas kenthongan dan berbagai atraksi kesenian lainnya selain pembagian hadiah untuk pemenang tentunya. (Tri Umi Sumartyarini)

pebruari-22Seorang bocah berdiri di atas panggung, di hadapannya ratusan orang duduk dan berdiri. Anak itu mulai melafalkan sebuah puisi. “Aku, Buah karya Chairil Anwar,” terucap dari bibirnya. Selesai membaca puisi hadirin bertepuk tangan. Acara itu adalah acara haflah akhirsanah. Serangkaian perhelatan yang diselenggarakan di bulan Ruwah. Kemarin telah dilaksanakan berbagai lomba dari yang bersifat hiburan seperti, lari karung, kepruk kendil, lari kelereng, tarik tambang, hingga permainan yang bersifat edukatif seperti lomba baca puisi, lomba pidato, cerdas cermat, lomba kaligrafi, lomba hafal Al’Qur’an. Si bocah ini gemetar pada detik-detik pembacaan puisi itu, terperanjat lagi menyaksikan orang banyak dengan seksama memperhatikannya. Dia selamat sampai puisi itu selesai, dan bungah setelah orang-orang memberi tepuk tangan. Inilah pertama kali Muhajir Arrosyid mengenal sastra. Dari kecintaannya membaca puisi berlanjut menulis puisi. Sekarang dia sedang konsen menulis Cerita Pendek. Saat dia ditanya alasan kenapa bergelut dalam sastra, dia menjawab; “Shakespeare, menulis Romeo and Juliet sudah sejak jaman dulu, tapi cerita itu masih dikenal orang hingga saat ini. Kita masih terasa dekat dengan cerita itu. Seandainya orang-orang Indonesia dari dulu menulis, kesenjangan sejarah tidak terpaut sejauh ini,” ujar Muhajir Arrosyid, penulis kumpulan Cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. “Dengan tulisan, kita dapat membaca peradaban lampau, dengan menulis kita memberi gambaran kepada generasi datang.” Dari Kampung Sebuah buku kumpulan cerpen karangannya telah ditebitkan. Di Atas Tumpukan Jerami, judul buku tersebut. Kumpulan cerpen itu berisi 11 cerpen. Inspirasi membuat cerpen didapatnya dari lingkungan desa tempat ia tinggal, dukuh Cabean, Karangawen, Demak. Menurutnya, desa menawarkan bahan cerita yang unik. Media dan sastrawan selama ini sering abai dengan kampung, mereka hanya mengangkat hal-hal yang besar saja. Keterabaian terhadap kampung inilah yang mengakibatkan kampung atau desa tidak atau kurang dirambah pembangunan. Saya ingin mengajak orang-orang mulai memikirkan kampung,” tandas mantan Pimpinan Umum LPM Vokal tahun 2004-2005 ini. (Majalah Vokal Edisi XXVIII/Th. XVIII/2008)

Di Atas Tumpukan Jerami

Maret 2, 2009

 

Pengantar Buku Kumpulan Cerpen

Di atas Tumpukan Jerami

Karya Muhajir Arrosyid

untitled

 

 

Judul : Kumpulan Cerita Pendek Di Atas Tumpukan Jerami

Penulis : Muhajir Arrosyid

Penerbit: Kontak Media

Tebal: 100 Halaman

 

NARASI KAMPUNG UNTUK INDONESIA

Harjito

Pengamat Sastra Media

 

Sastra Indonesia menggeliat dahsyat bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Soeharto yang tidak banyak memberi ruang kebebasan dan kreatifitas.

Paska 1998 masyarakat kita seperti mendapatkan suntikan oksigen. Bukan hanya kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga dalam berekspresi. Dalam suasana demikianlah bertaburan tabloid-tobloid dengan gambar atau foto dan narasi yang lebih menyuarakan kebebasan. Termasuk kebebasan berbusana dan seksual.

 

Modernitas dan Dukun Tiban

Kebebasan bersilangan dengan modernitas dan globalisasi yang melesak dalam kehidupan masyarakat. Modernitas terlihat dalam simbol, benda, dan gaya. Café, mall, handphone, internet ditambah isu yang semakin seksi: feminisme. Perempuan bukan saja bergantung pada ekspresi lelaki. Namun, mengekspresikan dirinya sendiri dan menulis sebagai keberadaannya. Teks yang muncul misalnya Jangan Main-Main dengan Kelaminmu karya Jenar Maesa Ayu atau Larung dan Saman tulisan Ayu Utami. Masih banyak judul-judul lain yang sejenis.

Dalam kesemarakan itu Di atas Tumpukan Jerami karya Muhajir Arrosyid hadir. Ia mengembalikan kerinduan dan naluri kita akan alam semesta. Sesuatu yang berwajah kampung. Sepenggal kisah yang pelosok.

Dalam “Selantun Mimpi” Muhajir merekam masyarakat tahun 2009-an yang kepengen menjadi selebritis: cepat terkenal dan kaya. Tokoh Lita, murid SMP, bingung harus memilih tetap sekolah atau menjadi artis dangdut.

Mengenai kenangan masa kecil dikorek dalam “Pohon Waru di depan Rumah”.

Peristiwa kedua adalah saat musim penghujan. Kali kecil itu mengalirkan sampah-sampah sawah menuju aliran sungai yang lebih besar. Aku dan teman-teman gebyuran di sana. Naik pohon waru dan meloncat menuju aliran sungai. Aku tenggelam terbawa arus sampai jauh. Meskipun dua kali akan merenggut nyawaku, pohon waru tetaplah sahabatku.

 

Gaya kanak-kanak yang lugu dan polos muncul lagi dalam “Menggambar Bulan dalm Gendongan”. Fis digambarkan begini:

Fis, lelaki kecil itu bertubuh mungil hitam tanah, jarang mandi. Dengan kaos tak penah dicuci. Rambut kriting kumal, kudis rata di siku tangan dan lutut kaki. Fis tinggal bersama bapaknya. Ibunya yang juga tuna wicara pergi entah kemana. Tempat tinggal Fis lebih tepat dibilang kandang kerbau. Atau kandang sapi , atau bahkan boleh dibilang sarang tikus.

 

Muhajir dalam kumpulan ini menyajikan kampung ndeso. Kamar yang bau. Dukun tiban.

Setelah itu tersiar kabar bahwa Fis adalah anak yang membawa peruntungan. Setelah itu orang-orang kampung juga mengaku-ngaku dulu setelah rumahnya digambari oleh Fis juga dapat peruntungan.

Minggu kemarin rumah yang digambari Fis dapat undian mobil, minggu kemarinya rumah seorang perawan tua setelah di dinding rumahnya digambari Fis paginya dilamar jejaka kaya ganteng lagi.

 

Atau sepenggal kesederhanaan yang masih ada di sekitar kita dalam “Gelengan Kepala”

 

Saat ketemu secara tidak sengaja di pasar malam, Sun histeris melihatku. Digandengnya tanganku menuju bakso urat. Aku deg-degan saat itu. Aku perlu menghitung dulu isi kantong. Hatiku lega saat Sun bidang begini,”Aku yang traktir.”

 

Seorang aku yang tidak sanggup untuk mentraktir bakso urat di pasar malam. Bandingkan dengan orang Indonesia yang masuk dalam kelas orang terkaya di dunia. Juga bandingkanlah dengan wakil rakyat yang lebih ribut soal studi banding ke luar negeri dan fasilitas mobil mewah agar bisa menyuarakan kepentingan rakyat.

 

Ending : Melawan Kota Besar

Kelebihan Muhajir adalah ending. Ending yang terbuka dan tak terduga. Menyentak. Kita masih saja bengong dan terus bertanya padahal cerita sudah ditutup. Rasakanlah di setiap cerita.

Muhajir Arrosyid bukanlah pengarang tiban. Ia menulis dalam segala kesadarannya. Ia lahir dan tinggal di sebuah kampung Karangawen, Demak. Arah ke timur dari Semarang. Dia cenderung pendiam serta suka mengamati. Apa saja. Mencatat segala peristiwa. Dalam tulisan. Apa yang di pusaran masyarakat direnungkan, direkam, dan dikonstruksi.

Sebagaimana dipahami, masyarakat Indonesia berada di pusaran simbol-simbol modern yang terus memenggerus dalam wujud iklan, kampanye, pidato yang disebarluaskan melalui radio, koran, dan media berpengaruh televisi. Acara televisi sehari-hari menawarkan impian selebritis: menjadi kaya dan bahagia hanya dengan mengirim short message service (sms). Sinetron penuh lalu lalang dan bersliweran para tokoh dengan ciri kesukaan masyarakat populer: ganteng, berdasi, wangi, cantik, rumah besar dengan kolam renang, atau mobil sangat bagus. Sinetron adalah mimpi terpendam kita: kekaguman luar biasa atas Jakarta atau kota-kota besar di dunia, kebingungan kita atas kemewahan: lampu merkuri, bir, lipstik.

Muhajir tidak memamerkan cerita itu. Ia menyentuh barang-barang keseharian dan lokal menjadi sesuatu yang menarik. Inilah daya pikat dia. Menuturkan kehidupan. Bukan dari sudut pandangan gemerlap. Melalui tokoh-tokohnya, ia menelisik dari lorong-lorong sawah dan kampung. Sebuah narasi kampung untuk Indonesia. Sebuah perlawanan atas narasi-narasi besar yang bermula dari sebuah pelosok kampung.

Muhajir Arrosyid dengan Di Atas Tumpukan Jerami menyeruak justru ketika menampilkan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang sekarang ini hampir habis diberangus kapitalisme globalisasi.

Akhir kata, selamat membaca.

Pasar Bintoro

Juli 24, 2008

PASAR BINTORO TERBAKAR
Muhajir Arrosyid

Pasar Bintoro Kobong
Jum’at esok 17 November 2006
Pasar Bintoro kobong
Wong-wong pating jlerit ngjaluk tulung
Naging geni wis kadhung

Dhuh Gusti
Nyuwun agungeng pangaksami
Yen insun amung bisa nyeyuwun
Esuk klawan bengi
Ngapunteno doso manungso iki
Kang wus nyepeleake perintahMu

Bu Dee Smanda
Demikian petikan puisi Bu Dee Smanda. Puisi ini di tulis pada bulan Maret 2007. Aku temukan di buku kumpulan puisi Demak Kinasih 504 lilin Cinta untukmu. Dalam pusi tersebut kita mendengar jeritan para pedagang yang teriak meminta tolong karna dagangannya terlalap api.
Teriakan menyanyat meminta tolong, teriakan dari orang yang setiap hari melafalkan zikir. Melihat api berkobar meminta ampun pada gusti memilik hidup. Harta terbakar menjadi asap membumbung ke langit kembali ke Tuhan.
Setelah api padam semua labak-labak tidak dapat digunakan pedagang-pedagang berkumpul, rembukan di mana mereka akan berjualan. Pemerintah yang di pimpin panjenenganiun Tafta Zani mengusulkan untuk sementara padagang berjualan di lapangan parkir tembiring. Pedangang menolak, dengan alasan kalau mareka pindah ke sana pasti pemerintah akan lambat memperbaiki pasar yang terbakar.
Menggelarlah mereka dagangan di emperan pasar, tidak berjarak dengan penguna jalan sambil menyaksikan pasar di bangun.
Dasar sial, paasr yang dinanti-nanti malah uang pembangunan di korupsi dan pembangunan pun berhenti. Nasib nasib. Gusti….ini derita apa lagi.

Alun-alun Demak

Juli 24, 2008

ASYIKNYA ALUN-ALUN DEMAK
Tri Umi Sumartyarini

Jika ada seorang bertanya kepada saya, “Apa yang membuatmu terkesan akan kota kelahiranmu, Demak?” Cepat-cepat saya akan menjawab, “Bersepeda sore hari, berputar-putar mengelilingi alun-alun, dan berakhir pada tegukan susu jahe dari warung kucingan depan penjara.”
Hal itu yang selalu saya lakukan ketika menghabiskan waktu di tempat kelahiran saya ini. Saya orang Demak. Namun, dalam sehari, waktu yang saya habiskan sebagian besar di Semarang. Nah, untuk mengobati kangen itu, paling tidak dalam waktu 2 minggu sekali saya luangkan waktu berjalan-jalan ke pusat kota dan menikmati romantismenya.
Bagi saya, ada keasyikan sendiri. Menatap langit jingga di antara atap masjid agung demak, mendengar suara orang mengaji menjelang maghrib, menyapa para peziarah dari luar kota, atau sekedar menyatap makanan-makanan yang dijual di sekitar alun-alun. Jika berada di luar kota saya selalu teringat suasana ini.
Namun, terkadang saya juga masih menyimpan kekangenan lain. Kekangenan akan hiburan yang sarat dengan makna, seperti Sunan Kalijaga yang menghibur masyarakat melalui wayang kulit dengan tujuan dakwah. Atau Ilir-ilir yang didendangkan menyeru kepada umat untuk berbuat kebajikan. Saya benar-benar kangen. Jangan hanya menampilkan pagelaran dangdut atau festival-festival band yang tidak tentu arah jluntrungannya itu…. .

Demak, ono apane?

Juli 24, 2008

DEMAK DAN BALI

Tri Umi Sumartyarini

 

23 Juli 2007 aku berkunjung ke Bali. Perjalanan berangkat melewati Salatiga, Boyolali, sampai menuju Jawa Timur, menyeberang lautan dan akhirnya pulau Bali. Seperti kebanyakan orang bilang Bali adalah surga dunia. Bali menjadi salah satu tempat tujuan wisata para turis dari seluruh penjuru. Tidak mengherankan memang, karena bali menawarkan sejuta keindahan alam, keunikan tradisi penduduk, dan barang-barang kesenian yang tidak bisa didapatkan dari tempat lain.

Puas jalan-jalan ke Bali, saya pulang. Kebetulan saat itu saya ke Bali dalam rangka KKL (Kuliah Kerja Lapangan). Jadi, berangkat dan pulang bersama teman-teman kuliah. Sempat saat itu, ada kabar bahwa rute perjalanan pulang berbeda dengan perjalan berangkat, yaitu melewati Kudus dan Demak (start rute Semarang). Saat itu saya berdoa semoga rute perjalanan tidak jadi lewat Kudus. Namun, doa saya tidak dikabulkan. Akhirnya yang saya khawatirkan pun terjadi.

Bis KKL saya memasuki wilayah Demak pukul 6 pagi hari? Tahu pemandangan apa yang terlihat? Di sepanjang sungai pinggir jalan raya, para ibu-ibu dan anak-anak sedang asyik mencuci pakaian dan mandi. Tidak jarang ada yang terlihat sedang membuang hajat di sela-sela rerumputan. Sampah berserakan pun dapat ditemui dengan mudah di sepanjang pibggir sungai. Spontan, seluruh awak bus (teman-teman kuliah saya) bersorak mengejek saya yang punya identitas orang Demak. Peristiwa ini persis seperti puisi karya Fastabiq Hidayatulllah dalam buku Demak Kinasih 504 Lilin Cinta Untukmu yang berbunyi:

Mekong, sebuah nama ironis / mepe bokong, kata nenek/ yang duduk di sebelahku / saat melongok ke jendela di dalam bus yang kami tumpangi//

Dalam hati saya sempat mengumpat A** menhan malu.  Kenapa bis ini harus melaju ke dalam kota Demak pukul 6 pagi? kenapa harus pagi hari ketika mata teman-temanku mampu menangkap gambar dengan sangat mudahnya? Kenapa tidak mundur barang 2 jam saja sehingga teman-temanku tidak punya kesempatan untuk meledekku sebagai orang Demak?

Dalam hati pula aku membela diri. Yah..memang ini kotaku. Memangnya kenapa? Apa yang salah jika mereka suka mandi, mencuci, dan berak sekalipun di kali? Toh di surat kabar maupun media pemberitaan manapun tidak pernah ada yang memberitakan ada orang Demak yang meninggal karena hidup meraka jorok. Toh kalaupun ada tidak jadi berita besar. Toh mereka juga sehat-sehat saja. Toh mereka bisa punya badan gemuk. Lalu, puisi karya Shikha Amna, Sketsa Demak, kian mendengung dalam telinga:

Dia tanya lagi “apa nama kotamu ?” Dengan bangga ku menjawab “kotaku adalah Demak” / Dia nampak merengut / Memicingkan mata…/ mencemooh…/ itukah kotamu? Kota kotor, disana sini jalannya bolong / Tak ada yang istimewa /Aku hanya tersenyum//

Ah… tapi aku tetap bangga pada kotaku / Di sana ada bundaku / Tempatku sekali waktu mengadu/Menimba ilmu/ Melukis kisahku//

Aku yakin kotaku akan bangkit bersamaku / Menjelma menjadi sang primadona /Mencipta kekaguman/ Demakku aku bangga padamu / Kan ku berikan yang terbaik untukmu / Untuk aku … kau … dia … mereka … kita bersama …//

 

 

Foto-Foto

Juni 5, 2008

Berikut di atas adalah foto-foto agenda kegiatan Festifal Kesenian Demak 2008

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.