Pasar Bintoro
Juli 24, 2008
PASAR BINTORO TERBAKAR
Muhajir Arrosyid
Pasar Bintoro Kobong
Jum’at esok 17 November 2006
Pasar Bintoro kobong
Wong-wong pating jlerit ngjaluk tulung
Naging geni wis kadhung
Dhuh Gusti
Nyuwun agungeng pangaksami
Yen insun amung bisa nyeyuwun
Esuk klawan bengi
Ngapunteno doso manungso iki
Kang wus nyepeleake perintahMu
Bu Dee Smanda
Demikian petikan puisi Bu Dee Smanda. Puisi ini di tulis pada bulan Maret 2007. Aku temukan di buku kumpulan puisi Demak Kinasih 504 lilin Cinta untukmu. Dalam pusi tersebut kita mendengar jeritan para pedagang yang teriak meminta tolong karna dagangannya terlalap api.
Teriakan menyanyat meminta tolong, teriakan dari orang yang setiap hari melafalkan zikir. Melihat api berkobar meminta ampun pada gusti memilik hidup. Harta terbakar menjadi asap membumbung ke langit kembali ke Tuhan.
Setelah api padam semua labak-labak tidak dapat digunakan pedagang-pedagang berkumpul, rembukan di mana mereka akan berjualan. Pemerintah yang di pimpin panjenenganiun Tafta Zani mengusulkan untuk sementara padagang berjualan di lapangan parkir tembiring. Pedangang menolak, dengan alasan kalau mareka pindah ke sana pasti pemerintah akan lambat memperbaiki pasar yang terbakar.
Menggelarlah mereka dagangan di emperan pasar, tidak berjarak dengan penguna jalan sambil menyaksikan pasar di bangun.
Dasar sial, paasr yang dinanti-nanti malah uang pembangunan di korupsi dan pembangunan pun berhenti. Nasib nasib. Gusti….ini derita apa lagi.
Alun-alun Demak
Juli 24, 2008
ASYIKNYA ALUN-ALUN DEMAK
Tri Umi Sumartyarini
Jika ada seorang bertanya kepada saya, “Apa yang membuatmu terkesan akan kota kelahiranmu, Demak?” Cepat-cepat saya akan menjawab, “Bersepeda sore hari, berputar-putar mengelilingi alun-alun, dan berakhir pada tegukan susu jahe dari warung kucingan depan penjara.”
Hal itu yang selalu saya lakukan ketika menghabiskan waktu di tempat kelahiran saya ini. Saya orang Demak. Namun, dalam sehari, waktu yang saya habiskan sebagian besar di Semarang. Nah, untuk mengobati kangen itu, paling tidak dalam waktu 2 minggu sekali saya luangkan waktu berjalan-jalan ke pusat kota dan menikmati romantismenya.
Bagi saya, ada keasyikan sendiri. Menatap langit jingga di antara atap masjid agung demak, mendengar suara orang mengaji menjelang maghrib, menyapa para peziarah dari luar kota, atau sekedar menyatap makanan-makanan yang dijual di sekitar alun-alun. Jika berada di luar kota saya selalu teringat suasana ini.
Namun, terkadang saya juga masih menyimpan kekangenan lain. Kekangenan akan hiburan yang sarat dengan makna, seperti Sunan Kalijaga yang menghibur masyarakat melalui wayang kulit dengan tujuan dakwah. Atau Ilir-ilir yang didendangkan menyeru kepada umat untuk berbuat kebajikan. Saya benar-benar kangen. Jangan hanya menampilkan pagelaran dangdut atau festival-festival band yang tidak tentu arah jluntrungannya itu…. .
Demak, ono apane?
Juli 24, 2008
DEMAK DAN BALI
Tri Umi Sumartyarini
23 Juli 2007 aku berkunjung ke Bali. Perjalanan berangkat melewati Salatiga, Boyolali, sampai menuju Jawa Timur, menyeberang lautan dan akhirnya pulau Bali. Seperti kebanyakan orang bilang Bali adalah surga dunia. Bali menjadi salah satu tempat tujuan wisata para turis dari seluruh penjuru. Tidak mengherankan memang, karena bali menawarkan sejuta keindahan alam, keunikan tradisi penduduk, dan barang-barang kesenian yang tidak bisa didapatkan dari tempat lain.
Puas jalan-jalan ke Bali, saya pulang. Kebetulan saat itu saya ke Bali dalam rangka KKL (Kuliah Kerja Lapangan). Jadi, berangkat dan pulang bersama teman-teman kuliah. Sempat saat itu, ada kabar bahwa rute perjalanan pulang berbeda dengan perjalan berangkat, yaitu melewati Kudus dan Demak (start rute Semarang). Saat itu saya berdoa semoga rute perjalanan tidak jadi lewat Kudus. Namun, doa saya tidak dikabulkan. Akhirnya yang saya khawatirkan pun terjadi.
Bis KKL saya memasuki wilayah Demak pukul 6 pagi hari? Tahu pemandangan apa yang terlihat? Di sepanjang sungai pinggir jalan raya, para ibu-ibu dan anak-anak sedang asyik mencuci pakaian dan mandi. Tidak jarang ada yang terlihat sedang membuang hajat di sela-sela rerumputan. Sampah berserakan pun dapat ditemui dengan mudah di sepanjang pibggir sungai. Spontan, seluruh awak bus (teman-teman kuliah saya) bersorak mengejek saya yang punya identitas orang Demak. Peristiwa ini persis seperti puisi karya Fastabiq Hidayatulllah dalam buku Demak Kinasih 504 Lilin Cinta Untukmu yang berbunyi:
Mekong, sebuah nama ironis / mepe bokong, kata nenek/ yang duduk di sebelahku / saat melongok ke jendela di dalam bus yang kami tumpangi//
Dalam hati saya sempat mengumpat A** menhan malu. Kenapa bis ini harus melaju ke dalam kota Demak pukul 6 pagi? kenapa harus pagi hari ketika mata teman-temanku mampu menangkap gambar dengan sangat mudahnya? Kenapa tidak mundur barang 2 jam saja sehingga teman-temanku tidak punya kesempatan untuk meledekku sebagai orang Demak?
Dalam hati pula aku membela diri. Yah..memang ini kotaku. Memangnya kenapa? Apa yang salah jika mereka suka mandi, mencuci, dan berak sekalipun di kali? Toh di surat kabar maupun media pemberitaan manapun tidak pernah ada yang memberitakan ada orang Demak yang meninggal karena hidup meraka jorok. Toh kalaupun ada tidak jadi berita besar. Toh mereka juga sehat-sehat saja. Toh mereka bisa punya badan gemuk. Lalu, puisi karya Shikha Amna, Sketsa Demak, kian mendengung dalam telinga:
Dia tanya lagi “apa nama kotamu ?” Dengan bangga ku menjawab “kotaku adalah Demak” / Dia nampak merengut / Memicingkan mata…/ mencemooh…/ itukah kotamu? Kota kotor, disana sini jalannya bolong / Tak ada yang istimewa /Aku hanya tersenyum//
Ah… tapi aku tetap bangga pada kotaku / Di sana ada bundaku / Tempatku sekali waktu mengadu/Menimba ilmu/ Melukis kisahku//
Aku yakin kotaku akan bangkit bersamaku / Menjelma menjadi sang primadona /Mencipta kekaguman/ Demakku aku bangga padamu / Kan ku berikan yang terbaik untukmu / Untuk aku … kau … dia … mereka … kita bersama …//