Demak, ono apane?
Juli 24, 2008
DEMAK DAN BALI
Tri Umi Sumartyarini
23 Juli 2007 aku berkunjung ke Bali. Perjalanan berangkat melewati Salatiga, Boyolali, sampai menuju Jawa Timur, menyeberang lautan dan akhirnya pulau Bali. Seperti kebanyakan orang bilang Bali adalah surga dunia. Bali menjadi salah satu tempat tujuan wisata para turis dari seluruh penjuru. Tidak mengherankan memang, karena bali menawarkan sejuta keindahan alam, keunikan tradisi penduduk, dan barang-barang kesenian yang tidak bisa didapatkan dari tempat lain.
Puas jalan-jalan ke Bali, saya pulang. Kebetulan saat itu saya ke Bali dalam rangka KKL (Kuliah Kerja Lapangan). Jadi, berangkat dan pulang bersama teman-teman kuliah. Sempat saat itu, ada kabar bahwa rute perjalanan pulang berbeda dengan perjalan berangkat, yaitu melewati Kudus dan Demak (start rute Semarang). Saat itu saya berdoa semoga rute perjalanan tidak jadi lewat Kudus. Namun, doa saya tidak dikabulkan. Akhirnya yang saya khawatirkan pun terjadi.
Bis KKL saya memasuki wilayah Demak pukul 6 pagi hari? Tahu pemandangan apa yang terlihat? Di sepanjang sungai pinggir jalan raya, para ibu-ibu dan anak-anak sedang asyik mencuci pakaian dan mandi. Tidak jarang ada yang terlihat sedang membuang hajat di sela-sela rerumputan. Sampah berserakan pun dapat ditemui dengan mudah di sepanjang pibggir sungai. Spontan, seluruh awak bus (teman-teman kuliah saya) bersorak mengejek saya yang punya identitas orang Demak. Peristiwa ini persis seperti puisi karya Fastabiq Hidayatulllah dalam buku Demak Kinasih 504 Lilin Cinta Untukmu yang berbunyi:
Mekong, sebuah nama ironis / mepe bokong, kata nenek/ yang duduk di sebelahku / saat melongok ke jendela di dalam bus yang kami tumpangi//
Dalam hati saya sempat mengumpat A** menhan malu. Kenapa bis ini harus melaju ke dalam kota Demak pukul 6 pagi? kenapa harus pagi hari ketika mata teman-temanku mampu menangkap gambar dengan sangat mudahnya? Kenapa tidak mundur barang 2 jam saja sehingga teman-temanku tidak punya kesempatan untuk meledekku sebagai orang Demak?
Dalam hati pula aku membela diri. Yah..memang ini kotaku. Memangnya kenapa? Apa yang salah jika mereka suka mandi, mencuci, dan berak sekalipun di kali? Toh di surat kabar maupun media pemberitaan manapun tidak pernah ada yang memberitakan ada orang Demak yang meninggal karena hidup meraka jorok. Toh kalaupun ada tidak jadi berita besar. Toh mereka juga sehat-sehat saja. Toh mereka bisa punya badan gemuk. Lalu, puisi karya Shikha Amna, Sketsa Demak, kian mendengung dalam telinga:
Dia tanya lagi “apa nama kotamu ?” Dengan bangga ku menjawab “kotaku adalah Demak” / Dia nampak merengut / Memicingkan mata…/ mencemooh…/ itukah kotamu? Kota kotor, disana sini jalannya bolong / Tak ada yang istimewa /Aku hanya tersenyum//
Ah… tapi aku tetap bangga pada kotaku / Di sana ada bundaku / Tempatku sekali waktu mengadu/Menimba ilmu/ Melukis kisahku//
Aku yakin kotaku akan bangkit bersamaku / Menjelma menjadi sang primadona /Mencipta kekaguman/ Demakku aku bangga padamu / Kan ku berikan yang terbaik untukmu / Untuk aku … kau … dia … mereka … kita bersama …//
Mas, ampun sedih, aku ugo wong Demak Asli. Saiki kudu di pikirake piye carane merubah pola hidup seng sehat. Ugo perlu di pikirake sarana lan prasaranane. Mugo2 bpak Bupati ugo wis mikirake bab iki. Matur suwun, Bravo Demak,,,,,
Iya aku juga sedih,Demak semakin tertinggal dari kota2 lain,apalagi semenjak kebakaran pasar,makin ribet&kotor.
mas aku mampir neng blog mu ya.. sekalian meninggalkan jejak di sini
Bagian Balinya mana? Kupikir aku ada di cerita itu