DSC_0074 copyHari ketujuh di bulan Syawal. “Berapa kupat yang sudah kau makan hari ini?” Demikanlah pertanyaan yang sering muncul dari para sanak dan tetangga. Memang, Semua keluarga di kampungku Desa Sidorejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, pada hari ini memasak ketupat (kami menyebutnya kupat). Saling punjung juga dilakukan. Keluarga yang lebih muda mengantar kupat beserta lauk pauknya kepada keluarga yang lebih tua. Maka jangan heran jika di keluarga yang sudah tua dan sudah memiliki cucu akan kebanjiran kupat.

Pagi hari setelah subuh para keluarga berbondong nyunggi nampan berisi kupat beserta lauk pauknya menuju masjid atau mushola terdekat. Prosesi ini disebut Ariyoyo kupat atau kupatan. Di dalam masjid atau musholla para penduduk mendoakan nenek moyang dan anggota keluarga yang sudah meninggal dunia. Prosesi puncak adalah memakan kupat bersama-sama. Walaupun tidak ada aturan namun tabu memakan kupat yang dibawa sendiri. Jika kupat dan lepat yang dibawa dari rumah tidak habis dimakan maka kupat-kupat itu ditukar dari nampan ke nampan.

Pagi itu aku tidak ikut ariyoyo kupat. Aku mengantar teman dari Blora yang bekerja di Jakarta untuk meliput Syawalan di Moro Demak. Sebuah peristiwa budaya yang baru kali ini aku saksikan. Ibuku sudah mewanti-wanti, “Panas lho! Macet lho!”

Mesin motor aku hidupkan, roda menggelinding melewati jalan antara Karangawen-Buyaran, Buyaran-Moro Demak. Seorang teman yang sudah sehari sebelumnya di sana mengirim SMS bahwa suasana sangat ramai, macet. SMS dari temanku tersebut membuat diriku semakin penasaran dan ingin segera lekas sampai. Di perjalanan aku disalip dan menyalip orang-orang yang aku duga bertujuan sama denganku, Moro Demak. Aku membayangkan betapa ramainya, betapa riuhnya. Aku merasa bangga sebagai warga Demak dan dapat menunjukkan peristiwa ini kepada teman yang kebetulan wartawan.

DSC_0136 copyDi dalam tasku sudah aku siapkan kamera dan handycam. Aku ingin mengambil gambar dengan kamera, merekamnya dengan handycam, dan mencatatnya. Nanti sesampai di rumah akan segera aku bagikan cerita dari Demak ini kepada teman-teman melalui blog dan facebook.

Saya berkesimpulan bahwa tempat pelaksanaan Syawalan sudah dekat saat melihat orang berseragam pramuka dan tentara menghadang kami, memberi kami selembar kertas warna hijau dan menyuruh kami menukarnya dengan uang dua ribu untuk setiap motornya. Aduh, sungguh tempat ini kotor sekali. Limbah rumah tangga memenuhi sungai yang mengalir ke laut. Teman saya bertanya, apa mayoritas agama penduduk di sini. Aku jawab, “Tentu saja Islam, tetapi mungkin mereka belum pernah belajar hadits annadlofatu minal iman dan terlewat untuk dibaca.

Motor kami berjalan pelan, karena tidak mungkin menabrak pengendara lain yang telah memenuhi jalan. Di hadapan kami berbaris sepasukan bertombak yang mengiring dua tumpeng besar. Langkah mereka seirama sesuai ketukan drum yang ditabuh pasukan pemukul. Kami belokkan motor kami ke tempat parkir. Kami bersyukur tepat saat prosesi dimulai. Iring-iringan bertombak yang membawa dua tumpeng itu menuju sebuah Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Di dalam TPI didirikan panggung untuk pementasan wayang dan seperangkat gamelan terletak di atas panggung.

Tumpeng diletakkan di antara wayang dan gamelan. Saya pikir prosesi akan segera dilangsungkan, ternyata tidak. Masih hampir satu jam menunggu bupati dan para pejabat setempat.

Kami menyaksikan lalu lalang perahu. Menikmati muda-muda bergoyang mengikuti irama dangdut di atas kapal yang bergerak pelan. Kapal dan perahu itu dihias  aneka ragam warna. Bagi yang ingin ikut hilir mudik, dipersilahkan untuk naik ke kapal dengan membayar ongkos sekali jalan Rp. 5000. Sambil menunggu prosesi dilanjutkan, kami memutuskan untuk menikmati naik kapal. Setelah kami tunggu sekian lama kapal tidak jalan-jalan kami pindah ke kapal lain. Nasib kapal ke dua juga tidak beda. Kami tidak sabar menunggu dan meloncatlah kami dari kapal. Kapal-kapal itu seperti angkot yang menunggu penuh penumpang baru jalan.

Rupanya prosesi sudah dimulai. Ketua panitia dan Pak Bupati menyampaikan sambutan. Saya tidak begitu peduli dengan sambutan beliau. Melompatlah kami ke kapal yang akan mengusung tumpeng menuju tengah laut. Seorang petugas berseragam TNI menanyai kami, teman kami menjawab, “Jurnalis.” Mereka mempersilahkan kami duduk di bagian belakang, karena katanya bagian tengah untuk Pak Bupati beserta rombongan.

Saatnya tiba. Tumpeng dibawa masuk ke kapal yang kami tumpangi. Para pejabat setempat juga turut serta. Mesin diesel dinyalakan. Suaranya bergemuruh memekakkan gendang telinga. Pelan kapal itu berjalan. Penumpang kapal dan perahu di kiri kanan dan orang-orang di tepi-tepi pantai melambai-lambaikan tangan. Tentu melambai dengan Pak Bupati Tafta Zani dan Wakil Bupati M.Asikin, bukan melambai kepada saya.

Sampailah kami menuju samudra. Mesin dihentikan, kapal berhenti bergerak. Kami menata duduk. Acara segera dimulai. Sambutan Bupati Tafta penuh dengan harpan-harapan meminta kepada Tuhan supaya laut memberi kehidupan. Saat itu angin menerpa kapal. Saya sempat berdebar. Satu tumpeng diserahkan kepada laut, tumpeng yang satunya dinikmati oleh yang ada di kapal.

DSC_0157 copyPara nelayan berebut air yang dilalui aliran tumpeng. Mereka menyiramkan air itu ke perahu-perahu. Entah apa maksud mereka, mungkin mengharap berkah. Selesailah prosesi, sebelum kapal kembali lagi ke dermaga ada kapal mendekat. Ada turis laki-laki dan perempuan, mereka mengaku dari Taiwan. Kata mereka perayaan Sywalan ini benar-benar wonderful.

He he turis lebay. Sepertinya dua turis itu hanya ingin menghibur tuan rumah. Atau bisa saja setelah sampai hotel menggerutu, “Laut kotor dan tontonan tidak serius kayak begini kok tega-teganya ditawarkan, mending ke Bali, atau ke mana saja. Kapal yang digunakan untuk melarung juga kapal nelayan biasa, mbok ya penyelanggaraan syawalan ke depan kapal didesain yang menarik, tumpeng yang mau dilarung juga didesain yang lebih menarik. Biar difotonya juga enak gitu lho.” (Muhajir Arrosyid)

Tinggalkan Balasan