Pendidikan
Juni 4, 2008
RINDU GURU YANG APIK, “PINTER” DAN “PENER”
SUSILO
Mulai Tahun Ajaran 2006/2007, para guru dari jenjang SD sampai dengan SLTA dipersilakan mengembangkan kurikulum di sekolah masing-masing dengan mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan hasil rumusan Badan Standar Nasional Pendidikan.
Dalam proses itu tentu sederet faktor pendukung sangat diperlukan, seperti kurikulum dan bahan ajar, serta sumber belajar yang diharapkan dapat memperbaiki mutu anak didik.
Akan tetapi, permasalahan utama terletak pada agen perubahan utama proses pendidikan, yaitu guru. Dialah sosok yang paling bertanggung jawab dalam proses pembelajaran di kelas dan proses pentransferan ilmu kepada siswanya.
Begitu utamanya peran guru dalam peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hasan pernah berpendapat, “Sebaik apa pun kurikulum jika tidak didukung guru yang berkualitas maka semua akan sia-sia. Sebaliknya, kurikulum yang kurang baik, kekurangannya akan dapat ditopang oleh guru yang berkualitas.”
Tetapi, secara realita sumber daya guru di Indonesia masih disangsikan mutunya. Ini tercermin dari masih banyaknya guru dengan kualitas akademik yang rendah atau kurang menguasai bidang ilmu yang diajarkan.
Bukan saja banyak guru yang kurang menguasai ilmu pedagogis, tetapi juga kurang dalam hal moralitas, bahkan ada guru yang bermental tengkulak dan makelar.
Oleh karena itu, peningkatan kualitas guru untuk menjadi apik, pinter, dan pener sangat dirindukan kemunculannya dan menjadi perhatian utama dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.
Sosok guru ideal
Guru yang apik adalah guru yang mempunyai karakter, yaitu setiap tindakannya mempunyai ukuran nilai normatif yang dianut.
Guru yang apik adalah guru yang berani dan teguh terhadap prinsip. Tidak mudah terombang-ambing pada situasi apa pun, dan tidak takut mengambil risiko.
Guru yang apik juga harus mempunyai keteguhan idealisme sebagai seorang pendidik. Ia harus memiliki daya tahan guna melaksanakan apa yang diyakini secara benar dan dipandang sebagai nilai yang baik. Guru yang apik juga harus mempunyai kesetiaan terhadap profesi sebagai dasar bagi penghormatan atas komitmen profesi yang telah dipilihnya.
Tak kalah penting, guru yang apik juga harus dapat menjadi teladan sebagai manusia yang berbudaya atau beradab, berbudi pekerti yang luhur, ahli, disiplin, dan jujur. Dan, terakhir, guru yang apik adalah yang amanah pada tugasnya dan memiliki citra diri yang positif.
Usaha meningkatkan kualitas pendidikan tanpa mengutamakan perbaikan kualitas guru, bukan hanya omong kosong, tetapi juga telah memasung kemerdekaan berpikir. Lalu, apa ukuran guru disebut pinter?
Pertama, pinter memberi motivasi kepada anak didik supaya mereka mempunyai idola positif yang menjadi teladan sebagai manusia yang berbudaya.
Dengan begitu siswa tergugah empati, simpati, dan semangatnya untuk berupaya dan berusaha keras meniru keberhasilan dan prestasinya, minimal semangat juangnya.
Kedua, menguasai ilmu yang harus diajarkan kepada anak didiknya. Ketiga, mampu mengajarkan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya dengan cara-cara yang kreatif, menyenangkan, menarik, mudah, dan jelas untuk ditangkap anak serta meresap pada anak.
Keempat, mengikuti proses kemajuan zaman, inovatif, suka pada hal-hal baru yang terkait dengan model atau metode pembelajaran, menggunakan alat peraga yang bervariasi serta membangun kondisi proses pembelajaran berdasarkan kegembiraan siswa dan guru.
Hargai guru
Kalau pembaca pernah mendengar lagu Oemar Bakri yang diciptakan dan dinyanyikan oleh Iwan Fals, pasti mengakui bahwa lirik lagu tersebut terasa pas dan menohok ulu hati.
Sebagai penyanyi sekaligus pengamat sosial, Iwan Fals mampu melukiskan figur seorang guru secara tepat.
Sebagai seorang profesional, guru telah berhasil mengantarkan anak didiknya menjadi presiden, insinyur, dokter, dan lain-lain, sementara dirinya sendiri secara sosial ekonomi kehidupannya tidak pernah berubah menjadi lebih baik.
Celakanya, pemerintah pun ikut-ikutan menambah deretan penderitaan yang meninabobokan, yaitu dengan menciptakan slogan kosong lewat mars berjudul Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Ironis, memang.
Sebagai profesi yang cukup mulia, jasa guru tidak mendapatkan penghargaan yang layak, tetapi dibohongi dengan gelar pahlawan “teh botol” (simak sebuah iklan minuman yang merendahkan martabat guru itu!).
Tidak heran akhirnya hal itu menjadikan profesi guru terdorong pada posisi yang kurang pener, sehingga menjadi profesi yang tidak banyak diminati.
Gaji minim, sementara pekerjaan dan tugasnya juga sangat berat; karena di samping mengajar juga harus mendidik. Belum lagi ditambah pekerjaan administrasi kelas yang bisa membuat guru tambah stres.
Jenjang karier dan promosi jabatan pun sering tidak jelas karena dicampuri kepentingan politisasi birokrasi.
Semua itu menyebabkan profesi guru hanya menjadi pilihan “keempat” bagi kebanyakan siswa lulusan SLTA di Indonesia.
Rendahnya mutu dan kompetensi guru juga menjadi penyebab merosotnya citra profesi guru.
Status profesional guru yang relatif rendah membuat profesi guru tidak lagi dipandang dan dihormati serta disegani seperti zaman dulu (era sebelum tahun 1970-an).
Tak aneh bila banyak generasi muda yang pandai tidak tertarik dan berminat menjadi guru. Untuk mengembalikan citra profesi guru sebagaimana layaknya, dibutuhkan usaha yang konsisten dari berbagai pihak, yaitu para guru itu sendiri, kemauan politik pemerintah, lembaga pendidikan tenaga kependidikan alias LPTK, organisasi guru, dan masyarakat.
Pesimisme dan harapan akan lahirnya calon guru yang bermutu dan bermoral baik merupakan pekerjaan rumah yang tak kalah pelik dan sulit.
Mau tidak mau kita harus menengok kepada lembaga yang selama ini telah mencetak tenaga guru, LPTK.
Ke depan, LPTK dituntut mampu menghasilkan calon guru yang apik (profesional), pinter (intelek), dan pener (bermoral).
Bukan sekadar jadi tukang, yang cuma pandai mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didik dengan memberi trik-trik jalan pintas cara mengerjakan soal-soal ujian (baca: UN) supaya lulus dengan “membentuk tim sukses”, yang justru tidak mendidik dan tidak menghargai proses evaluasi pembelajaran yang berkelanjutan dan adil.
SUSILO. Pelukis, Pendidik di SMA Negeri 2 Demak, Sekretaris Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Seni Budaya Kabupaten Demak
Demak Kinasih
Juni 4, 2008
Meniti Demak dari waktu ke waktu dari saat pertama kali tanah ini ditinggali hingga menemukan peradabannya 504 tahun silam singga saat ini eranya otonomi daerah di mana Demak menjadi bagian dari Republik Indonesia kita patut bertanya sampai mana kita berjalan dan apa yang hendaknya kita lakukan?FKD 2008
Juni 4, 2008
FESTIVAL KESENIAN DEMAK 2008
Dalan hentak rebana
Kuhentakkan semangat melecut diri
Membangun citra tanah negeri
Tuk berani membangun mimpi
Nurani sebagai fondasi
Harga diri mengatapnaungi
…….
…….
Bersana dinamika tariku
Mari..Demakku
Bersama manulis episode baru
Tancapkan tonggak sejarah untuk anak cucu
Serentak tabuhan rebana membahana seusai puisi dibacakan. 70 penari Zippin unjuk kebolehan. Dibalut pakaian warna-warni, ke tujuh puluh penari berlenggak-lenggok menarikan zippin, tarian khas Demak. Mereka adalah gabungan pelajar-pelajar se-kabupaten Demak. Sorak sorai penonton membahana memenuhi langit Lapangan Tembiring Demak.
Suasana di atas merupakan acara pembukaan Festival Kesenian Demak (FKD) 2008 yang dibuka oleh bupati Demak, Drs. H Tafta Zani, MM. ”FKD semoga mampu menjadi tonggak kesenian Demak. Mari kita tunjukkan kreasi dan kita tunjukkan bahwa Demak adalah gudangnya seniman. Semoga Demak menjadi pusat seni nasional yaitu puasat seni religius,” papar Tafta dalam sambutan pembukaan.
Setelah sebuah pementasan kolosal berupa konfigurasi pentas rebana dan zippin massal, acara berlanjut dengan pementasam kesenian rakyat. Sanggar seni kornelis Nudoyo dari Karang Tengah mementaskan dramatari ’Terjadinya desa Buyaran’ , Cabang dinas pendidikan kabupaten Demak mementaskan Adeging Soko Guru Masjid Agung Demak, SMP N 1 Sayung menampilkan olah kanuragan Sunan kalijoga jurus setan kobar, kademangan Bonang juga mementaskan drama tari. Dan masih banyak lagi pementas lainnya.
Setelah pementasan tersebut dilanjutkan karnaval. Karnaval pawai kesenian dari Tembiring menuju alun – alun dan kembali ke Tembiring. Karnaval diikuti peserta dari empat belas kecamatan yang terdiri dari instansi, sekolah dan komunitas – komunitas seni di Demak. Peserta karnaval mempertontonkan potensi kesenian di wilayahnya masing – masing.
Sedianya acara tersebut akan berlangsung selama 3 hari yaitu sejak 1 s/d 3 Juni 2008. Sebagai pra pembukaan digelar Demo Melukis oleh perupa–perupa Demak dan sekitarnya dilanjutkan Lomba menggambar dan Mewarnai yang di ikuti oleh 300 peserta di Alun – alun Demak pada hari Minggu, 1 Juni 2008 dimulai pukul 08.00 WIB sampai selesai. Serangkaian acara lainnya adalah pasar seni, karnavak atau pawai seni budaya, Pentas Tari Modern, Musik Bambu Mpu Palman, Sulap, pertujukana kentrung, Lomba Zipin, Lomba Baca Puisi Se – Jateng, dan wayang tiga dalang. Seluruh peserta FKD berjumlah 500 orang dari berbagai wilayah Demak.
Setyobudi, ketua penyelenggara mengungkapkan FKD 2008 sekaligus sebagai puncak peringatan peringatan hut kota Demak ke-505 tahun.
Dalam laporan pertanggung jawabannya menuturkan FKD 2008 diharapkan mampu menjadi ajang silaturahmi budaya antar masyarakat dengan penggiat seni sehingga terjalin rasa keberakaran (sense of rootness) kolektif yang disimbolkan dalam berbagai bentuk dan ekspresi. Di samping itu, FKD 2008 dimaksudkan membangun citra bahwa Demak adalah wilayah potensi seni dan budaya. Selanjutnya, kegiatan ini juga mempunyai tujuan menambah khasanah agenda wisata seni Demak di tahun-tahun mendatang.
Hello world!
Juni 4, 2008
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
